Mey-Lan, Anak Yg Berbakti…
“Mey-Lan, Anak yang Berbakti”
Epi. ke-1 dari trilogi “Tragedi Mey-Lan”
Jakarta, medio 2005.
Hampir setahun telah berlalu sejak kepulanganku dari Singapura. Pengobatan pembesaran syaraf no. 8 di kepala kananku melalui penyinaran sinar gamma, ternyata memang tidak meninggalkan side effect (efek samping) apa-apa. Praktis aku bisa langsung beraktivitas kembali seperti sedia kala, sebagaimana biasa, tidak kurang suatu apapun juga. Teknologi kedokteran melalui penyinaran sinar gamma benar-benar menjadi alternatif yang sangat membantu pasien untuk lepas dari keharusan menjalani operasi tengkorak kepala, yang pastilah mengandung risiko tinggi, apalagi untuk pasien yang sudah berusia lanjut, seperti halnya diriku.
Satu-satunya perubahan yang terjadi pada diriku adalah kenyataan bahwa terhitung sejak 1 April 2005, aku harus mengucapkan selamat tinggal kepada perusahaan tempatku bekerja, karena sudah memasuki masa purnabakti (pensiun). Tidak ada yang perlu aku sesalkan. Aku merasa telah menjalani tugasku dengan baik, mencapai posisi yang cukup tinggi (head of department) pada saat terakhir bertugas. Perusahaan-pun telah menghargai pengabdianku secara memadai, memberi pesangon yang cukup untuk menghadapi hari-hari tua tanpa aku harus bersusah payah mencari kerja lagi kemana-mana. Akupun merasa senang, telah berhasil menjalani dan melewati masa-masa senang maupun masa-masa sulit selama berkarya di perusahaan minyak asing multinasional itu.
Yang lebih menggembirakan diriku adalah bahwa sejak mulai menjalani purnabakti, aku mempunyai banyak waktu untuk mengerjakan hal-hal yang tadinya tidak sempat ataupun tersisihkan untuk dikerjakan. Diantaranya adalah untuk menyalurkan “kebisaanku” menulis atau mengarang. Aku sengaja tidak menggunakan kata “kegemaranku” atau “hobby-ku” , karena sebenarnya aku tidak begitu suka mengarang, hanya saja kemampuan alamiah atau bakat (talent) untuk itu memang telah ada sejak lama. Tidak bermaksud menyombongkan diri, nilai Bahasa Indonesiaku sejak dari Sekolah Rakyat (sekarang SD) sampai SMA (SMU), selalu tidak pernah kurang dari delapan. Kurasa itu pula yang menyebabkan kemampuanku berbahasa Inggris tidak terlalu jelek alias diatas rata-rata, karena menurut para akhli bahasa, untuk bisa menguasai bahasa asing dengan baik, seseorang haruslah mampu menguasai bahasa ibunya terlebih dahulu, secara baik pula.
Oke, cukup sekian tetek bengek mengenai diriku dan “kebisaanku”. Ternyata keinginan Citra untuk pada suatu waktu berkunjung ke Jakarta tidak atau belum menjadi kenyataan. Tidak lama setelah perjumpaan kami yang mengharu-birukan diriku di hotel Grand Hyatt at Scott Road di Singapura itu, setibanya kembali di Hong Kong, ia memutuskan untuk menerima lamaran dari David C. Remington, seorang captain pilot berkebangsaan Canada, yang sama-sama bekerja di Cathay Pacific, untuk menikah dan pindah (berimigrasi) ke Canada. Tentu saja Citra harus melepaskan pekerjaannya sebagai pramugari udara dan sejak itu ia mulai menjalani kehidupan barunya sebagai seorang isteri dan ibu rumah tangga. Aku tidak sepenuhnya tahu apa alasan Citra untuk segera menerima lamaran David, namun kuduga ia ingin menghilangkan kenangan-kenangan pahit yang telah ia alami selama hidup secara keras dan sulit di Hong Kong bersama tante Imei (Mey-Ling) dan oom Aliong. Barangkali juga agar ia bisa secepatnya membawa oom Aliong pindah ke Canada. Tapi mohon dipahami, ini hanya dugaanku saja. Yang jelas, Citra senang bisa berimigrasi ke Canada, sekaligus agak menyesal karena ia belum sempat berkunjung ke Jakarta.
Sebelum pindah ke Canada, Citra sempat mengirim sebuah paket kepadaku di Jakarta. Yah sebuah paket, namun ternyata isinya hanyalah tiga pucuk surat yang tampak lusuh dan usang. Sepertinya sudah terlalu lama disimpan. Citra tidak banyak memberi pengantar pada paket tersebut, kecuali menulis:
Oom Sammy,
Ketiga pucuk surat ini adalah surat-surat yang sebenarnya tante Imei ingin kirimkan ke alamat Oom di Bangka. Namun sejak surat terakhir tante Imei yang tidak sampai (return to sender) karena Oom sudah pindah ke Jakarta, surat-surat ini lalu disimpan saja oleh tante Imei, dengan pesan agar suatu waktu bila saya mendapat tugas ke Jakarta, menyampaikannya kepada Oom. Entah firasat apa yang ada di hati dan pikiran tante Imei, yang sangat yakin bahwa pada suatu waktu, saya pasti akan bertemu dengan Oom Sammy. Kenyataannya, firasat tante Imei benar, kita telah bertemu, walaupun bukan di Jakarta. Saya rasa, Yang Maha Kuasa mendengar doa tante Imei selama ini, lalu mengabulkan harapannya itu. Sayang sekali, saya belum bisa memastikan kapan saya bisa berkunjung ke Jakarta, karena saya sudah tidak menjadi pramugari udara lagi dan David lebih sering mendapat tugas terbang ke Eropa dan Amerika. Tetapi saya berjanji, setelah semuanya settled dengan baik di Canada, saya pasti akan berkunjung kesana.
Salam hormat dari kami berdua,
Citra dan David.
PS: Kami tidak pernah membuka surat-surat ini, jadi kami tidak tahu apa yang tante Imei ingin sampaikan kepada Oom. Kami sangat menghormati keinginan tante Imei dan kami yakin, Oom Sammy adalah orang yang paling berhak untuk mengetahui apa isinya.
Terhenyak diriku membaca surat pengantar dari Citra. Aku sempat berkata dalam hati, Imei pastilah telah mengajar Citra berbahasa Indonesia dengan sangat baik. Akh Imei, kau benar-benar mencintai negeri ini setulus dan sepenuh hatimu. Dengan tergesa-gesa, kubuka surat pertama:
Dear Sammy,
I wasn’t surprised to see my previous letter returned to me because you had moved to Jakarta. Bukankah sejak dulu kau memang telah mengatakan kepadaku bahwa pada suatu waktu nanti, kau ingin merantau ke Jakarta, untuk membuka cakrawala kehidupan di kota besar dan untuk mendapatkan kesempatan-kesempatan yang pasti lebih menjanjikan daripada apa yang bisa ditawarkan oleh sebuah pulau kecil seperti Bangka? Namun karena aku tidak pernah tahu pasti kapan kau akan melaksanakan niatmu itu, maka aku sengaja mengirim surat itu ke Bangka dan tahu bahwa surat itu akan dikembalikan kepadaku, bila kau telah pindah ke Jakarta…
Sammy,
That’s also why I did not send these letters to your address in Bangka anymore and decided to keep them with me in Hong-Kong, instead. Entah mengapa, walaupun aku tahu engkau sudah pindah dan alamatmu di Jakarta-pun tidak kuketahui, namun tetap saja hati ini mengatakan bahwa aku harus menyuratimu. Ya, aku harus menulis kepadamu, tidak peduli apakah tulisanku akan sampai atau tidak kepadamu. Sammy, aku, sekali lagi, aku membutuhkan seseorang untuk berbagi rasa dan asa yang bergejolak di dadaku, dan orang itu adalah kamu. Bukankah telah berulang kali aku katakan, bahwa kaulah satu-satunya orang yang bisa memahami jalan pikiranku dan kata hatiku sepenuhnya? Kaulah satu-satunya orang yang selalu bersedia mendengar segala keluh-kesah, jeritan dan tangisan hatiku? Ya, engkaulah satu-satunya tempatku mengadu. Sounds so sloppy, huh? I don’t care… Itulah sebabnya aku sangat yakin, entah dengan cara bagaimana, suatu saat surat-suratku pasti akan sampai ke tanganmu. My Great Lord, my Merciful One, Sammy, He is the one who will help deliver my letter to you…
Sammy,
I have told you before that my elder sister Alan (catatan Sammy: Mey-Lan) had married to Xin Ru Ziang (biasa dipanggil A-Ziang), yang adalah seorang pegawai negeri di Kementerian Pendidikan Rendah di kota Peking (catatan Sammy: sekarang Beijing) Bahwa Alan telah memutuskan untuk menerima lamaran A-Ziang, dan menetap di pinggiran kota Peking, demi membantu ekonomi keluarga kami yang sedang terpuruk dikala itu. Sammy, can you imagine, my sister Alan, who had been admired by so many of her high-school boyfriends because of her beauty and charm, married to a middle-aged man, seorang laki-laki baya, yang lebih banyak menghabiskan waktunya dengan bekerja dan bekerja? Yang mungkin tidak pernah memiliki masa-masa indah remaja seperti kita dulu? Tidak, aku bukan menyesalkan perkawinan mereka, aku hanya ingin memberimu tahu, betapa Alan, yang kau sendiri akui lebih cantik dari diriku, tidak punya pilihan lain demi membantu ekonomi keluarga yang sedang terpuruk. (Catatan Sammy: Dulu, Imei pernah bertanya kepadaku:
Sammy,
Kakakku Alan memang seorang anak yang sangat berbakti kepada orang tua. Akupun pernah mengatakan bahwa sebenarnya aku tidak begitu yakin Alan mencintai suaminya, Kurasa ia menikah lebih karena ia ingin meringankan beban ekonomi keluarga kami yang berat di masa itu. Sebagai seorang anak yang sangat menghormati orang tua, Alan akan mengorbankan apa saja demi mewujudkan cinta kasih dan bakti-nya kepada orang tua dan keluarga. Setelah menikah, Alan and her husband live in a very small apartment in the suburb of Peking. Sebuah apartemen yang terletak di sebuah gedung berlantai empat, tanpa lift, hanya tangga biasa untuk menuju ke semua tingkat (lantai). Setiap unit apartemen terdiri dari 3 ruangan, 1 ruangan berukuran 2×4 meter untuk ruang keluarga merangkap ruang tamu, 2 ruangan berukuran 2×3 meter masing-masing, untuk kamar tidur dan untuk dapur, kamar mandi & WC. (Catatan Sammy: sepertinya mirip rumah susun sederhana di bilangan Tanah Abang, Jakarta Pusat.) Bandingkan dengan rumah kami di Bangka dulu, yang kamar tidurnya saja berukuran 6×8 meter. (Catatan Sammy: rumah keluarga-keluarga kaya China di Bangka termasuk rumah keluarga oom Tan, banyak yang berukuran 40×50 meter keatas, dengan halaman luas didepan dan dibelakang rumah, memiliki dua pintu sejajar di ruang tengah, khas arsitektur rumah-rumah China.)
Sammy,
Terkadang aku seperti tidak tahu diri saja, membandingkan apa yang dulu pernah kami miliki dengan apa yang sekarang harus kami terima. Well, sometimes I become so emotional, but I can’t help myself from being very fragile and selfish, lately, Sammy… Walaupun begitu, Alan cukup senang dan dapat menerima kenyataan bahwa ia harus menyesuaikan kehidupan barunya dalam suasana yang sangat sederhana. Ia tidak pernah mengeluh dan tampaknya ia berusaha keras menyesuaikan segala sesuatunya dengan realita yang harus ia hadapi sekarang. Suami Alan, Xin Ru Ziang (A-Ziang), adalah seorang pria sederhana. Ia agak terlambat menikah (kurasa usianya sekitar 40-an ketika ia menikahi Alan), selalu bekerja keras demi menapak karirnya di Kementerian Pendidikan Rendah agar bisa mencapai kedudukannya sekarang. Keputusannya untuk menikah-pun sebagian didorong oleh persyaratan bahwa ia baru akan mendapatkan fasilitas sewa-beli apartemen, apabila sudah berkeluarga. Sammy, rumah, sesederhana apapun adalah barang mewah di Peking. Tidak mudah memang menyediakan rumah untuk rakyat yang demikian banyak. Terkadang aku suka membatin sambil bercanda: kirim saja orang-orang ini ke Bangka, setiap keluarga bisa menempati lahan sepuluh duapuluh kali lebih luas dari apa yang mereka dapatkan disini, ha-ha-ha…
Sammy,
Long story short, Alan dan A-Ziang hidup berdua di apartemen kecil di pinggiran kota Peking. Setiap pagi, tepat pukul 5:00 A-Ziang naik kereta angin (catatan Sammy: sepeda) menuju stasiun kereta api yang terletak sekitar 3 km dari lokasi gedung apartemennya. Setelah menitipkan kereta anginnya di stasiun, ia lalu naik kereta pukul 5:30, bercampur dan berdesak-desakan dengan penumpang lainnya menuju kota Peking. Perjalanan ke kota biasanya ditempuh selama 1 jam. Tiba di kota, ia masih harus berjalan kaki menuju kantor tempatnya bekerja, yang terletak tidak jauh dari stasiun. Walaupun resminya jam kerja baru mulai pada pukul 08:00, namun ia langsung bekerja, sampai pukul 18:00 petang. Selama 10 jam kerja dengan istirahat makan siang pada pukul 12:00 – 13:00, ia larut dalam kesibukan yang tampaknya tidak pernah habis-habisnya dari pagi hingga petang hari. Then, it is almost certain that he will continue working until night-time arrives. Walaupun jam kerja sudah berakhir pada pukul 18:00, bukanlah suatu yang luar biasa bila bagian terbesar dari pegawai kantor (pegawai negeri) pulang dua atau tiga jam sesudahnya, kecuali segelintir pegawai golongan tinggi, yang kalau di Bangka dulu, mungkin setingkat kepala bagian. Begitu juga dengan A-Ziang, yang baru akan berhenti bekerja setelah pukul 20:00 atau pukul 21:00 malam. Ia lalu pulang kembali ke kediamannya di pinggiran kota dengan menumpang kereta pukul 21:00 atau pukul 22:00 malam. Artinya ia baru akan tiba di apartemennya setelah 1½ jam kemudian, sekitar pukul 22:30 paling cepat atau pukul 23:30 bila ia menumpang kereta pukul 22:00. Tidak banyak yang bisa ia lakukan setibanya di rumah, kecuali segera beristirahat tidur setelah mandi dan makan malam bersama Alan. Begitulah rutin terjadi tiap-tiap hari, except on Sunday, when he has one-day off.
Sammy,
The monotonous life-style of A-Ziang, does have effects to his marriage relationship with Alan. Walaupun A-Ziang tidak masuk kerja pada hari Minggu, tidak berarti ia bebas untuk melakukan apa saja yang ia sukai pada hari itu. Kerja komunitas (kerja bakti kalau di Bangka), yang disini lebih merupakan kewajiban daripada sukarela, telah menunggu A-Ziang dan penghuni apartemen lainnya tanpa terkecuali, sebagai wujud tanggung jawab mereka kepada lingkungan sekitar. Mulai dari memelihara jalan lingkungan, saluran air, memperbaiki prasarana umum yang digunakan bersama, sampai ikut menanam padi di sawah milik bersama, telah siap menghadang untuk dikerjakan pada hari Minggu. Praktis setengah hari dari hari Minggu secara “sukarela” dihabiskan dengan bekerja bakti. Tidak ada dana pemerintah tersedia bila harus menggaji pekerja untuk mengerjakan itu semua. Tidak heran bila kualitas hubungan A-Ziang dengan Alan terpengaruh oleh situasi dan kondisi hidup mereka yang keras itu. Sampai tibalah saat “bahagia” itu. Alan melahirkan seorang bayi laki-laki… Yes, a baby boy Sammy, a baby boy…
Sammy,
Tak dapat aku lukiskan betapa senangnya Alan dan A-Ziang dengan kelahiran putra pertama mereka. Seorang bayi laki-laki yang disini sangat didamba-dambakan oleh pasangan suami isteri yang belum mempunyai anak. Seperti kau mungkin tahu, peraturan di China hanya membolehkan setiap keluarga mempunyai satu anak saja. Sudah terlalu banyak penduduk negeri ini Sammy, sehingga aku rasa wajar saja bila pemerintah menetapkan aturan ketat itu, agar tidak terjadi ledakan penduduk berlebihan. Setiap keluarga yang telah mempunyai anak akan diawasi secara ketat agar tidak melanggar aturan. Padahal kau pasti mengerti, bagi keluarga China, anak laki-laki dianggap lebih “baik” daripada anak perempuan, karena akan membawa terus nama keluarga (she) bila ia mempunyai keturunan nantinya. Beda dengan anak perempuan, yang nama keluarganya tidak akan terbawa bagi keturunannya. O ya, bukankah hal ini sama saja dengan beberapa daerah di Indonesia? Yang juga menganggap anak laki-laki lebih “berharga” daripada anak perempuan? I don’t like this unfair attitude Sammy, I hate it !) (Catatan Sammy: Sejak dulu, Imei sangat tidak suka dengan perlakuan beda antara anak laki-laki dengan anak perempuan. Ia suka merajuk, kalau aku ganggu dengan mengatakan bahwa laki-laki memang lebih pintar daripada perempuan. Buktinya, aku selalu mendapat nomor 1 dan ia nomor 2 dalam Bahasa Inggris. Tapi Imei berkilah dengan mengatakan bahwa walaupun ia hanya mendapat nomor 2, tapi ia tetap lebih pintar dari semua murid laki-laki lainnya didalam kelas, ha-ha-ha…)
Sammy,
Unfortunately, the “happiness” did not last for long. Tidak perlu waktu lama untuk mengetahui kalau bayi laki-laki yang didamba-dambakan itu ternyata menderita autis. Autis, Sammy, ya, autis. Bayi laki-laki Alan itu menderita gangguan komunikasi sejak lahir. Kau tahu kan, autis adalah kelainan berupa gangguan perkembangan syaraf yang ditandai dengan ketidak-mampuan anak untuk berinteraksi sosial dan berkomunikasi, sehingga cenderung untuk mengisolasi diri dari sekelilingnya. Yah Sammy, bayi Alan menderita autis, sulit bicara dan lebih suka menyendiri dalam sepi. Itu rupanya yang menyebabkan ia tidak banyak bereaksi seperti bayi-bayi normal lainnya.
Tidak dapat kugambarkan betapa kecewanya A-Ziang mendapatkan kenyataan pahit ini. Bayi laki-laki yang sangat ia harap-harapkan, yang kelak akan menjadi penerus nama keluarganya, lahir dengan cacat bawaan. Ia sangat, sangat terpukul dan sejak itulah perilakunya berubah banyak. Maafkan aku, Sammy, rasa-rasanya aku tidak sanggup meneruskan surat ini, aku terlalu sedih mengingat nasib Alan yang berubah drastis, terlebih setelah keluarga A-Ziang mengetahui kelainan yang diderita oleh bayi itu. Alan, kakak-ku yang rapuh itu harus menghadapi pahitnya derita berkepanjangan. Maafkan aku Sammy, maafkan aku sayang, saat ini aku sungguh tidak sanggup untuk menceritakannya…
Nanar mata-ku menatap baris-baris akhir surat Imei yang tampak kabur dan lusuh. Pasti ia telah menangis sejadi-jadinya ketika ia tidak sanggup meneruskan surat ini. Dengan tangan gemetar karena ikut larut dalam kesedihan, kusisihkan surat pertama dan segera kubuka surat kedua…
Sammy.
Bagaimana nasib Mey-Lan setelah ternyata bayi laki-lakinya menderita autis? Tunggu kelanjutannya di surat ke-2 Imei, “Mey-Lan, “Derita Berkepanjangan”, episode ke-2 dari trilogi “Tragedi Mey-Lan”.
(Trilogi Mey-Ling: http://sammy99.blogdetik.com/index.php/2009/08/14/mey-ling-gadis-idola-ku-epi-1/)
